Setelah menenangkan diri dan berpikir. Istri pun setuju untuk melakukan tindakan operasi. Kami berdoa akan hal ini kepada Tuhan dan menyerahkan setiap proses ini kepada Tuhan, karena dari Dia kesembuhan itu berasal. Amin. Pada hari senin, tanggal 17 sseptember, istri mengkonfirmasi untuk rencana operasi, dan yg tidak disangka operasi bisa dilaksanakan keesokan harinya. Namun karena kesibukan kerja dan pertimbangan untuk pemulihan yang lebih panjang, maka kami menginformasikan untuk jadwal operasi pada hari jumat tanggal 21september 2012.
Saya berusaha mencari apa sih polip itu, agak ngeri ketika me-google di internet hasilnya adalah tumor jinak. Dan itu merupakan daging tumbuh, akibat hormon estrogen yang terlalu banyak. Entah apa benar faktor tersebut yang membuat hal itu terjadi. Istri pada awalnya merasa takut, tapi Tuhan mempunyai rencana yang indah. Ketika menceritakan hasil diagnosa kepada saudara saudara dan teman serta sahabat. Perlahan banyak mereka mensharingkan kalau mereka pernah mengalami hal serupa, bahkan pimpinan langsung istri, juga mengalami kasus yang sama persis dengan kondisi istri dan setelah 2 bulan menjalani operasi tersebut, dia kemudian hamil dan sekarang anaknya dalam kondisi sehat. Terima kasih mbak Tutik :)
Memang suasana istri semakin menjelang hari operasi, semakin galau, dan sering uring uringan. Saya sadar betul dengan kondisinya, karena ketakutan itu, mungkin suasana itu juga akan saya alami juga kalau saya didiagnosa untuk operasi. Saya berusaha untuk tidak emksi, dan selalu menghibur dia meski istri dalam kondisi yang galau. Saya belajar untuk menjadi suami yang siaga. Meski hanya sekedar kecupan di dahi atau pipi, tangan istri saya pegang erat, dan guyonan "garing' saya, paling tidak ketika istri tersenyum, saya merasa bahagia.
menyiapkan mental istri, saya mengajak untuk bertemu ponakan saya. Karena keponakan saya selalu menjadi favorit dia. Seorang little angel and sweet girl bernama vene. :)
Har yg ditunggu datang, dan istri diminta untuk berpuasa dari jam 6 pagi, menjelang jam 6, istri merasa takut ketika saya minta untuk makan dan minum, malah marah karena saya tidak mengingatkan lebih pagi dari jam 5. Untuk membuat dia mengerti saya menelepon rumah sakit tempat istri akan dioperasi, dan menanyakan kenbali untuk syarat puasanya. Dengan syarat yang sama, akhirnya istri mengerti dan mau makan juga. Makan roti selai stroberi dan meses coklat serta sebotol air putih. Ya majjanya seorang istri terlihat dalam kondisi ini. Jam 730 kami berangkat menuju ke rumah sakit tersebut, yang tidak jauh dari rumah kami. Cuma 15 menit di jalan rahman hakim surabaya.
Dengan jadwal jam 12 operasi, berbondong bondong kelaurga datang untu menghibur. Jadi seperti pertemuan keluarga jadinya. Kami mengambil di kelas 3. Dan tidak ada pasien, sehingga rada bersyukur keramaian itu tidak menjadi gangguan. Setelah menunggu dan menunggu, akhirnya baru jam 1430 sang dokter datang. Si istri yang berada di ruang tunggu dy kecup keningnya sblum sy meninggalkan dia. Saya menyapa dokternya dan saya keluar.
di luar menunggu saya mengupdate informasi kondisi terakhir istri kepada teman, saudara, dan sahabat. Dan saya katakan semua terkendali dengan baik. Saya belajar ketenangan ini dari ayah saya, yang sudah makan garam untuk tetap berpikir jernih dan tenang di saat genting. Dan saya juga tetap tenang karena saya tahu pada saat ini, Tuhan sedang bekerja via dokter dan perawat yang menangani. Amin.