Jumat, 21 September 2012

Operasi polip

Setelah menenangkan diri dan berpikir. Istri pun setuju untuk melakukan tindakan operasi. Kami berdoa akan hal ini kepada Tuhan dan menyerahkan setiap proses ini kepada Tuhan, karena dari Dia kesembuhan itu berasal. Amin. Pada hari senin, tanggal 17 sseptember, istri mengkonfirmasi untuk rencana operasi, dan yg tidak disangka operasi bisa dilaksanakan keesokan harinya. Namun karena kesibukan kerja dan pertimbangan untuk pemulihan yang lebih panjang, maka kami menginformasikan untuk jadwal operasi pada hari jumat tanggal 21september 2012.

Saya berusaha mencari apa sih polip itu, agak ngeri ketika me-google di internet hasilnya adalah tumor jinak. Dan itu merupakan daging tumbuh, akibat hormon estrogen yang terlalu banyak. Entah apa benar faktor tersebut yang membuat hal itu terjadi. Istri pada awalnya merasa takut, tapi Tuhan mempunyai rencana yang indah. Ketika menceritakan hasil diagnosa kepada saudara saudara dan teman serta sahabat. Perlahan banyak mereka mensharingkan kalau mereka pernah mengalami hal serupa, bahkan pimpinan langsung istri, juga mengalami kasus yang sama persis dengan kondisi istri dan setelah 2 bulan menjalani operasi tersebut, dia kemudian hamil dan sekarang anaknya dalam kondisi sehat. Terima kasih mbak Tutik :)

Memang suasana istri semakin menjelang hari operasi, semakin galau, dan sering uring uringan. Saya sadar betul dengan kondisinya, karena ketakutan itu, mungkin suasana itu juga akan saya alami juga kalau saya didiagnosa untuk operasi. Saya berusaha untuk tidak emksi, dan selalu menghibur dia meski istri dalam kondisi yang galau. Saya belajar untuk menjadi suami yang siaga. Meski hanya sekedar kecupan di dahi atau pipi, tangan istri saya pegang erat, dan guyonan "garing' saya, paling tidak ketika istri tersenyum, saya merasa bahagia.

menyiapkan mental istri, saya mengajak untuk bertemu ponakan saya. Karena keponakan saya selalu menjadi favorit dia. Seorang little angel and sweet girl bernama vene. :)

Har yg ditunggu datang, dan istri diminta untuk berpuasa dari jam 6 pagi, menjelang jam 6, istri merasa takut ketika saya minta untuk makan dan minum, malah marah karena saya tidak mengingatkan lebih pagi dari jam 5. Untuk membuat dia mengerti saya menelepon rumah sakit tempat istri akan dioperasi, dan menanyakan kenbali untuk syarat puasanya. Dengan syarat yang sama, akhirnya istri mengerti dan mau makan juga. Makan roti selai stroberi dan meses coklat serta sebotol air putih. Ya majjanya seorang istri terlihat dalam kondisi ini. Jam 730 kami berangkat menuju ke rumah sakit tersebut, yang tidak jauh dari rumah kami. Cuma 15 menit di jalan rahman hakim surabaya.

Dengan jadwal jam 12 operasi, berbondong bondong kelaurga datang untu menghibur. Jadi seperti pertemuan keluarga jadinya. Kami mengambil di kelas 3. Dan tidak ada pasien, sehingga rada bersyukur keramaian itu tidak menjadi gangguan. Setelah menunggu dan menunggu, akhirnya baru jam 1430 sang dokter datang. Si istri yang berada di ruang tunggu dy kecup keningnya sblum sy meninggalkan dia. Saya menyapa dokternya dan saya keluar.

di luar menunggu saya mengupdate informasi kondisi terakhir istri kepada teman, saudara, dan sahabat. Dan saya katakan semua terkendali dengan baik. Saya belajar ketenangan ini dari ayah saya, yang sudah makan garam untuk tetap berpikir jernih dan tenang di saat genting. Dan saya juga tetap tenang karena saya tahu pada saat ini, Tuhan sedang bekerja via dokter dan perawat yang menangani. Amin.


Rabu, 12 September 2012

Kembali ke dokter lagi....

Hari ini tanggal 12 September 2012, kembali lagi rutinitas ke dokter kandungan. Setelah mandeg hampir 3 bulan, sekarang mau coba lagi dengan dokter yang berbeda. Sekarang ke dokter PS yang praktek di kertajaya indah timur. Pergi ke dokter ini dari referensi temen istri yang sudah menikah 4 tahun, dan akhirnya bisa hamil. Sebenarnya ke dokter ini untuk mencari pertimbangan kedua, karena pada dokter sebelumnya, istri diminta untuk ditiup rahimnya. Eh bener ya rahimnya.... :)  dan berhubung istri takut karena dapat info kalau sakit, jadi dia cari dokter lain.

toh kalau dokter ini mendiagnosa hal yang sama, ya sudah harus dilakoni.

Ini datang jam 1830, karena diminta hadir jam 1845, setelah mendaftar, kok tidak diberi nomer, mengingat dokter sebelumnya diberi nomer antri pada saat ditelepon, dan jadi bisa tau harus dateng jam berapa. Dan bisa teratur, di dokter ini, setelah mendaftar, nanti akan diabsen lagi, untuk memastikan orangnya hadir, dan gak pergi lagi. Proses pendaftaran ditanyakan biodata pribadi seperti NAMA SUAMI & ISTRI, ALAMAT, Usia suami dzn istri, usia pernikahan, sudah pernah hamil dan anak keberapa, dan ini yang serem, sudah ke dokter mana sebelumnya.

Istri sudah takut dari pagi, karena dimulai lagi prosesnya untuk check2 dan sebagainya, terlebih hasilnya gimana ya, saya sih gak takut, dan berusaha menenangkan istri bahwa tidak apa apa. Sampai pulang kantor hari ini,istri pun masih takut, dan sebelum turun dari mobil, istri meminta kami untuk berdoa dulu. Kami pun berdoa.

Jumlah pasien tidak terlalu banyak, kurang lebih 6 pasangan, dan rata-rata sudah hamil. Sambil menunggu panggilan, saya melakukan googling untuk membaca reputasi bapak fokterjni. Memang reputasinyacukup mengagumkan, karena tante saya yang sudah 15 tahun menikah, akhirnya memiliki anak. Dan teman tante yangsudah 18 tahun menikah juga bisa hamil. Dan saya menemukan di forum diskusi yang membahas beberapa dokter kandungan terkenal di surabaya.

Ketika saya membaca, awalnya sih biasa saja, tapi semakin lama jantung saya berdegub kencang, dan saya tiba tiba merasa takut luar biasa. Cerita dari para calon ibu yang cukup pemberani untuk mengutarakan uneg unegnya di forum itu. Dan perjuangan mereka bersama suami, sungguh mengagumkan. Para perempuan beruntung mereka memiliki komunitas yang saling support. Meski mereka hanya berkenalan di dunia maya.

Nah, saya berpikir dimana sang ayah. Tidak adakah forum yang membahas perjuangan ayah ayah ini. Bagaimana mereka menyikapi setiap pemeriksaan. Ya paling tidak saya mau bercerita banyak tentang pergumulan saya bersama dengan istri di fase program anak ini. Saya akan bercerita dari sisi suami atau ayah. :)

Kembali lagi ke ketakutan saya, saya merasa takut bagaimana bila istri saya mengalami hal seperti yang di forum ceritakan, bagaimana dengan biaya yangakan dikeluarkan yang sampai jutaan. Saya cukup panik dengan semua itu. Seketika itu juga saya memutuskan untuk menghentikan pembacaan di forum tersebut. Dan saya berpikir , Sudah saya tidak mau takut untuk ketakutan yang belum terbukti, dan saya berdoa dalam hati untuk penyerahan ini kepada Tuhan.

Dan saya brrusaha mengalihkannya dengan memulai blog baru saya ini, untuk menghilanbkan paniknya saya.

Jam 2025, kami dipanggil masuk, dan ternyata pasien sebelumnya masih ada, dan sang suami menunggu di ruang dokter, sementara sang istri berada di ruang periksa. Kmudian istri stelah menjawab beberapa pertanyaan dokter, diminta masuk di ruang periksa, dan saya menunggu di ruang dokter. Sambil harap cemas, saya mengetik saja terus di blog, sambil berdoa everything wil. Be allright.

Saya khawatir istri di ruang periksa bagaimana, mengingat di dokter sebelumnya, saya diijinkan untuk menemaniistri di ruang periksa. Dan tentu saja memberti support (Memegang tangannya). Saya hanya bisa berdoa saja, menunngu istri selesai diperiksa.

Setelah pemeriksaan dokter, dokter mendiagnosa bahwa semuanya baik saja, tapi ada polip. Apalagi polip ini ? Apa sama dengan kista. Dokter menunjukkan ada polip di leher rahim ato apa sehingga sperma tdk bisa tembus. Penyebabnya bisa infeksi atau tidak diketahui. Istri hanya terdiam. Dokter hanya memberikan vitamin dan info bila sudah siap silakan dikonfirmasi, dan dipikir dahulu.

Kami kemudian pamit dan membayar uang periksa, saya menggenggam tangan istri saya sembari berjalan ke mobil, sambil menguatkan dia dengan tidak apa2. Di atas mobil, istri menangis, saya mengemudikan mobil dengan perasaan cemas dan Tuhan harus apa lagi. Kenapa kok susah begini jalannya.

Saat itu,  saya mengajak istri untuk berdoa, dan saya menepikan mobil, kemudian kami berdoa untuk belas kasihan, hikmat dan kekuatan untuk menjalankan semua ini.

Sepanjang perjalan pulang, saya menguatkan bahwa syukur sudah diketahui, dan ada keluarga yang akan support. Jadi diagnosa malam ini membuat kami harus memilih, ke dokter lain lagi untuk mencari pendapat, atau melakukan hasil dokter untuk operasi. Kiranya Tuhan yang Pengasih memberikan hikmatnya untuk bertindak selanjutnya.