Selasa, 17 Mei 2016

Usus Buntu OBSERVASI TAMBAHAN

Sudah 3 hari di rumah sakit. Saya stay... ciiieee stay.... bahasanya. Ya dibuat enak aja deh. Si kelas 1B, dimana disesuaikan dengan plafond asuransi aja.

1 kamar berisi 2 orang. Tetangga saya, adalah bapak yang seumuran dengan bapak saya terkena radang paru paru. Ya katanya dari keluarga efek dari merokok. Meskipun udah berhenti 5 tahun lalu. Tapi efek yang timbul tetap ada.

Jadi setelah 3 hari tidak ada perkembangan yang berarti. Efek nyeri masih ada dan badan demam hampir tiap hari. Akhirnya dokter meminta 2 observasi yaitu : pemeriksaan feses dan CT Scan.

Astaga apa lagi ini. Sudah mikir biayanya berapa pula. Apalagi CT SCAB.

Jadi pemeriksaan feses ini untuk mencari apa ada masalah di bagian ususnya. Mgkn ada radang. Iritasi. Tumor (nah ini yg bikin takut).

Untuk CT Scan memeriksakan lebih detail kembali apakah yg terjadi di usus buntu.

Feses dikumpulkan dalam sampel kecil saja. Saya sudah takut banget karena pada feses kok ada warna merah. Jangan2 darah. Pikiran saya kalut. Dan saya hanya menenangkan dengan berdoa. Tuhan saya tahu engkau jaga saya.

CT Scan dilakukan hari Sabtu. Sebelumnya perut saya dikosongkan dengan diberikan obat yg dimasukkan dari dubur. Suster menginformasikan ini dipersiapkan untuk urus urus. Pikiran saya ooo administrasi... ternyata urus urus itu obat pencahar. Urus urus itu dari murus (istilah bahasa jawa). #ealah

Oh ya di CT Scan saya juga diharuskan puasa makan dan minum sekitar 8 jam sebelumnya.

CT SCAN

Saya mengetahui bentuk barangnya. Dan dari lihat di tivi di film atau serial barat. Tapi masuk di dalamnya. .... pengalaman pertama.

Jadi saya diminta untuk mengganti dengan baju yang seperti baju operasi. Disitu saya dijelaskan bahwa untuk tindakan checking ini. Akan disuntikkan obat kontras dari lengan dan dari dubur.... (dubur lagi).

Yang dari dubur dimasukkan semacam selang begitu dan disuntikkan dan diminta untuk menahan supaya cairan tidak dikeluarkan selama CT Scan.

Dan obat injeksi dari lengan diinformasikan ketika disuntik akan terasa panas atau hangat badan.

Dan CT  Scan dimulai. Pertama dilakukan tes dahulu. Jadi menginjeksikan sedikit. Kemudian berbunyilah mesinnya. Mesinnya bunyi seperti bunyi mesin pesawat. Namun tidak seberisik itu juga.

Saya serasa mutan. Teringat film X-MEN. Dan tes dilakukan 3 kali dengan masuk dan keluar dari lingkaran mesin itu. Eh ternyata masih tes....

Tujuan tes supaya tahu apa ada masalah dengan obat di dalam tubuh kita. Dan kemudian saya diperiksa kembali.

Fiuuuuhhh... pemeriksaan yang panjang dan multiple ini membuat kondisi lelah. Pikiran. Psikis. Saya pengen sembuh dan pulang.

Hasil CT Scan tersedia jam 1800 WIB. Saya di CT Scan jam 1230 WIB dan kurang lebih 30 menit di ruangan tersebut.

Usus Buntu Kronis .... And Then ?

Melanjutkan hasil pemeriksaan apendictogram. Jam 1600 saya kembali ke lab. Dan dengan deg-deg an saya membuka hasilnya.

Hanya berharap memang bener usus buntu kronis. Dan syukurlah memang usus buntu kronis hasilnya.

Setelah itu saya menjemput istri dan bapak saya. Dan kemudian ke dokter internis.

Dan dokter internis menginformasikan. Sudab diopname saja. Dilihat 3 hari bila masih sakit dan tidak ada tanda tanda perubahan. Segera dioperasi.

3 hari nanti diobati dahulu dengan antibiotik. Dan nanti diobservasi lagi.

Malam itu juga hari Selasa tanggal 4 Mei saya meluncur ke Siloam. Masuk di UGD dan opname.

Kembali lagi merasakan infus setelah hampir 8 tahun tidak opname. Sakitnya itu.... haduuuhhh.

Rabu, 04 Mei 2016

Usus Buntu Kronis

Cerita berlanjut....

Akhirnya jam 1600, saya kembali ke lab untuk mengambil hasil. Nyetir mobil sendiri sambil sedikit meriang dan nyeri..

Masuk ke ruang lab sambil deg degan hasilnya apa. Dan ketika membuka hasil apendictogram. Ditemukan bahwa

APENDICITIS KRONIS.

Lega juga ketika sudah mengetahui hasilnya. Dan sy berangkat jemput istri dan bapak saya untuk ke dokter internis.

Dokter menginformasikan bisa ditreatment antibiotik 3 hari dengan opname. Bila tidak ada perubahan ya baru dijalankan operasi.

Malam itu juga saya meluncur ke UGD RS Siloam dengan surat rujukan dokter untuk mendaptkan treatment berikutnya.

Sharing aja sih. Kalau saudara saudara tidak memiliki asuransi kesehatan. Segera deh apply. Berguna banget. Dan itu diluar BPJS ya. Disarankan untuk punya. Paling gak bila umur saudara belum 30 tahun.bisa sisihkan 500 ribu perbulan untuk asuransi

Karea biaya kesehatan itu luar biasa besar.....

Selanjutnya adalah menunggu observasi dari dokter. Ngapain ini bil masih beelanjut keluhannya.

Selasa, 03 Mei 2016

Usus Buntu ?

3 Mei 2016

Pada saat cerita ini ditulis, saya sedang menunggu lab Parahita untuk pemeriksaan apendicogram.

Jadi pemeriksaan ini untuk mengetahui dengan pasti dan jelas apakah usus buntu kita radang atau tidak. Dan ini rekomendasi dari dokter setelah hasil lab dan USG keluar.

Keluhannya sih bermula seminggu yang lalu. Kok tiba2 perut sisi kanan bawah dekat pusar kok sakit. Tapi sakitnya timbul tenggelam. Dan intensitasnya gak selalu ada.

Saya pikir nih mungkin makanan gak beres atau efek GERD saya. Tapi kok tiap hari makin lama makin intens. Namun saya tidak mual ataupun sakit panas.

Memang gejala usus buntu yang terasa pada umumnya adalah perut kanan sakit, apalagi kalau sudah ditekuk kaki kanannya, mual, muntah dan sakit panas.
Kalau dari yg dibaca di internet sih ini yang kategori akut. Dan perlu tindakan segera yakni operasi.

Nah kalau saya. Kok ya gak sakit panas. Gak mual dan gak muntah. Apa ini sakit liver (hati) atau ginjal atau gimana nih ?
Dan saya baca juga bisa saja sakit usus buntu kronis. Dimana gejalanya samar samar.

Karena hampir 1 minggu dan masih berjalan, maka hari minggu siang kemarin saya coba untuk periksakan dengan masuk UGD di RS Premiere Surabaya.

SPOILER ALERT : siap siap uang banyak keluar ( sementara ini masih ikut asuransi kantor , syukurlaaah)

Jadi saya diperiksa disana dengan prosedur :

1. Keluhannya apa pak ? Perut sisi kanan sakit, ada diare baru hari ini.
2. Kemudian saya diminta menekuk kaki kanan saya . Dan kerasa sakit sih. . . Ouch.

Dokter jaga mengindasikan bahwa kemungkinan ini usus buntu. Beliau info kalau diperlukan tes darah, urine dan USG abdomen.

Nah berhubung hari minggu, yg ready cuma tes darah dan urinenya. Jadi akhirnya saya tes aja dulu.

Hasil tes kurang lebih 2 jam kemudian keluar, dan dokter melihat dari sel darah putih sudah naik. Dan dari urine normal.

Jadi tinggal cek USG saja.

Dan diberikan obat antibiotik. Obat mual dan asam lambung.

Senin kemarin, saya melakukan USG abdomen atas dan bawah di lab parahita (dengan pengantar surat USG dokter). Memang saya milih diluar RS karena untuk mengurangi biaya saja sih.

USG abdomen kurang lebih 630 ribu. Dan hasilnya ditunggu 10 menit sudah jadi.

Di USG dicek semua organ organ yang ada di perut. Liver (hati), pankreas, ginjal, empedu, dan tentu saja usus buntu.

Dari hasil USG ditemukan bahwa kemungkinan usus buntu awal, atau bisa jadi colitis. (Entah ini apa lagi ya ?)

Nah akhirnya dari internis diminta untuk melakukan apendicogram ini untuk memastikan.

Sebelum cerita apendicogram. Apa yang saya rasakan. Dari minggu sampai selasa ini.

1. Nyeri di sisi kanan makin sering terasa
2. Badan meriang ( terasa panas) lebih sering tapi tidak sampai panas temperaturnya. Sekitar 36.4 - 36.8 saja
Dan tidak mual juga
3. Nafsu makan agak sedikit berkurang

Lanjut ke Apendicogram.

Saya balik lagi senin sore ke lab parahita untuk mendapatkan informasi tentang apendicogram. Biaya appendictogram ini sekitar 600 ribu Dan saya coba search dulu di internet pengalaman dari yang sudah melaksanakannya.... supaya bisa prepare juga sih.

Apendicogram ini kita diberikan bubuk Barium (bubuk putih) seperti tepung. Dan diminta kita meminumnya jam 12 malam karena untuk dilakukan pengecekan dengan rontgen jam 7 pagi.

Jadi bubuk dilarutkan di air hangat. Bubuk sudah ada takarannya. Dan dihabiskan. Rasanya seperti minum santan kelapa gitu. Gurih gimana gitu.

Dan diharuskan puasa minum dan makan dan buang air besar sampai pemeriksaan. Yang gak oke itu kan buang air besarnya karena kebiasaan saya kalau setiap pagi sudah wajib setor. Hehehe

Terus terang tidur jadi enggak nyaman karena kepikiran appendictogram pagi hari.

Singkat cerita saya melakukan rontgen dan difoto denga 6 gaya...... yakni :
1. Terlentang ( difoto 2 kali)
2. Miring kanan
3. Miring kiri ( difoto 2 kali)
4. Tengkurap

Nah di sesi foto itu. Ada alat bantu yg ditaruh di sekitar perut. Nah pas yg kena area usus buntunya. Astaga nyut nyut an....

Kata mas yg jaga di labnya ini supaya mendapatkan gambaran yg jelas untuk kondisi usus buntunya. Oh ya cairan yg kita minum gunanya untuk melihat ketika di rontgen itu apakah cairan itu mengalir ke usus buntu tersebut atau tidak.....
Waktu untuk rontgen ini kurang lebih 20 menit. Dan ruangannya dingin banget.

Hasil dari rontgen diambil sore. Sekitar jam 1600 WIB. Jadi deg deg an tunggu hasilnya...